Coba sesi gratis
Dunia dengan segala kompleksitas dan daya kejutnya akan selalu memberi masalah yang berdampak kepada manusia pada aspek fisik, mental maupun batin. Jika melihat kebelakang tentang sejarah manusia dari era berburu-meramu, revolusi industri, perang dunia hingga revolusi digital maka masalah akan selalu ada di setiap zaman dalam bentuk yang beragam. Misal masalah yang terjadi akibat situasi perang, depresi ekonomi, dan bencana alam di level makro; dan kegagalan pribadi dalam pekerjaan, pendidikan maupun hubungan sesama manusia di level mikro. Maka mengharapkan sebuah dunia yang baik-baik saja tanpa adanya suatu masalah merupakan harapan yang melawan kehendak alam. Langkah logis dari kenyataan ini bertumpu kepada cara-cara komprehensif untuk menyiapkan manusia-manusia bermental tangguh, berbudi luhur dan memiliki tingkat kebugaran-kesehatan fisik yang prima untuk menghadapi kemungkinan masalah yang terbentang.
Hapkido sebagai sebuah sistem akan berupaya terus menerus mendedikasikan teknik dan basis filsafatnya untuk menciptakan manusia-manusia dengan kualitas sebagaimana dimaksud. Pelatihan Hapkido diperuntukan secara inklusif untuk semua gender, usia dan kelas sosial. Hapkido bukan sebuah sekolah beladiri yang fokus kepada pria saja, anak kecil atau mereka yang berkelimpahan materi. Inklusifitas itu mencakup semua kelas sosial dalam masyarakat sehingga manfaatnya dapat sejalan dengan pembangunan bangsa yang senandungnya kerap terdengar di telinga: Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya!
Sebagai sebuah cabang olahraga beladiri prestasi, Hapkido tentu tidak bisa menghidar dari target prestasi yang ditentukan pemangku kepentingan olahraga di level kompetisi daerah, nasional, regional maupun internasional. Kompetisi dimaksud jangan dipandang semata-mata sebagai upaya mengalahkan lawan dengan segala cara. Kompetisi lebih merupakan cara paling ampuh untuk mengukur kemajuan diri praktisi Hapkido dibandingkan versi dirinya dimasa lalu. Apakah sudah menjadi lebih baik atau belum, dari segi fisik, teknik, mental maupun spiritual. Sejatinya kompetisi adalah wahana melawan diri sendiri dan metode paling efektif mengikis wahm (merasa diri paling benar) dan rasa berpuas diri yang kontra-produktif.
Dari persepktif yang lebih luas, saat Hapkido dapat dipertandingkan di level regional maupun internasional yang selama ini sudah berlangsung maka menjadi tugas patriotik setiap atlet untuk mengibarkan bendera merah putih bersamaan iringan lagu Indonesia Raya di podium tertinggi dunia. Upaya-upaya ini sejalan dengan semangat yang sama ketika para pendiri bangsa dengan tanpa lelah menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON) I Tahun 1948 di Surakarta di tengah-tengah aksi polisionil Belanda dan terselenggaranya Games of New Emerging Forces (GANEFO) Tahun 1963 yang telah menyatukan negara-negara di dunia selatan dalam solidaritas anti kolonialisme dan anti imperialisme melalui kompetisi olahraga. Dari kenyataan sejarah ini, olahraga, termasuk di dalamnya Hapkido tidak dapat dipisahkan dari Politik Emansipasi, bukan politik dalam arti praktis, namun upaya agar harkat martabat bangsa menjadi sejajar dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi melalui nilai-nilai persaudaraan, fair-play dalam pertandingan dan terpeliharanya perdamaian dunia.
Dalam penyelenggaraan tempat latihan (dojang) unsur-unsur utama di dalamnya terutama pelatih harus memiliki semangat untuk terus belajar, melakukan kritik diri, dan penuh semangat untuk mencetak kader-kader Hapkido-in bermental tangguh. Dojang diselenggarakan sebagai upaya bersama dengan logika koperasi dan kekeluargaan, bukan logika industri yang semata-mata mengedepankan akumulasi modal dengan melakukan penghisapan atas curahan kerja orang-orang yang berdedikasi dalam pelatihan. Pelatih hanya mendapat porsi sesuai curahan kerjanya dalam kerja-kerja nyata kepelatihan di Dojang. Impian untuk memperoleh pendapatan tanpa kerja merupakan mental feodal yang usang serta wajib dikikis sampai ke akar-akarnya.
Dengan begitu unsur murid di dalam dojang tidak dapat dipersepsikan sebagai objek modal. Murid adalah subjek merdeka yang perlu dibantu menemukan potensi dirinya dari segi fisik, mental dan spiritual sehingga saat mereka menghadapi realita di rumah, sekolah, tempat kerja dan masyarakat dapat bermanfaat bagi sesamanya, menunjukan karakter unggul dan dapat harmoni dengan dirinya sendiri, alam semesta dan sesama manusia. Berangsur-angsur dalam pelatihan yang dilakukan secara konsisten target utama setiap murid adalah menjadi manusia paripurna yang dapat berkolaborasi dalam peran uniknya dalam masyarakat.
Dojang dan setiap subjek di dalamnya pada akhirnya adalah upaya kolektif bagi manusia dan kemanusiaan dengan nilai-nilai kejujuran, kesopanan, keberanian dan kegigihan.